Tak Ada Pengampunan Dari Orang-tuaku

“Nama saya Anggertias Naftali. Asal saya dari Cirebon, latar belakang saya adalah anak jalanan. Pokoknya orang berdosa, karena daerah asal saya daerah orang-orang yang biasa melakukan prostitusi. Ada banyak orang yang menjual diri, dari kecil saya sudah biasa melihatnya.”

Dalam usia yang sangat muda, Anggertias melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya dengan seorang PSK.

“Waktu itu ada seorang perempuan. Ia butuh seorang yang lugu, seorang yang perjaka. Akhirnya dalam keadaan mabok, saya dirayu oleh dia. Dan saya jatuh bersama dia. Pada waktu itu saya tidak merasakan sesuatu yang terhilang, tetapi saya merasakan biasa.”

Sejak itu terjadi, justru membuat Anggertias ketagihan. Dan Anggertias pun menjadi sering melakukan hubungan seks dengan siapa saja. “Jadi semenjak saya kecil, kehidupan saya sudah menjadi liar,” ujar Anggertias.

Hingga suatu hari ada seorang pria yang memiliki kecenderungan homoseksual. “Waktu itu saya tidak mengerti mengapa pria tersebut dekat-dekat dengan saya. Kebapakan. Dan saya berasal dari keluarga yang kurang memperhatikan saya. Dan ketika ada seorang yang memperhatikan saya seperti pria tersebut, saya merasakan bersama pria tersebut saya merasakan ketenangan dan kebahagiaan.”

Hingga akhirnya pria tersebut menyentuh Anggertias. Dimulai dari situ Anggertias menjadi ketagihan untuk berhubungan dengan pria. Bahkan bagi Anggertias, jadinya ia lebih menyukai dengan pria daripada bersama perempuan.

Perilaku seks Anggertias yang menyimpang mendorong Anggertias mencari uang lebih banyak. Dari seorang pemuas nafsu pria dan wanita, Anggertias mulai menaikkan profesinya dengan menjadi seorang germo. Ia memiliki prinsip tidak ingin hidup kekurangan, apapun yang ia mau… Anggertias beranggapan ia harus bisa.

Tidak puas dengan apa yang ia dapatkan di kampung, Anggertias merantau ke Jakarta. Tinggal bersama saudaranya yang seorang germo di Kramat Tunggak.

Di Jakarta, Anggertias pun mulai mencari wanita-wanita kampung yang ia bisa jadikan sebagai alat pencari uang bagi dirinya. “Saya mencari orang-orang yang benar-benar butuh uang untuk hidup. Saya mencari yang minim pendidikan. Saya bilangnya untuk jadi pembantu. Saya mencari yang laku untuk dijual. Saya tidak melihat cantiknya. Jika saya melihat perempuan itu pintar ngomong dan ada daya tarik bagi lelaki. Saya akan dengan gigih mendapatkan anak perempuan tersebut.”

Banyak wanita belasan tahun telah terbius dengan janji-janji semu. Masa depan mereka telah dirusak olehnya.

Dalam bisnis haramnya, pernah juga Anggertias membohongi keinginan seorang pejabat yang mencari wanita darinya. Ketika ia ketahuan, ia pun dipukuli oleh anak buah pejabat tersebut.

Dari Germo, Waria Pun Dilakoni
“Waktu saya menjadi waria, saya pun benar-benar tidak merasa malu. Karena pada waktu itu, saya memang butuh uang. Memang masalah perut. Sampai saya pakai wig, pakai aksesoris perempuan… Pada waktu itu saya melihat memang ada peluang.”

Tetapi waktu itu tidak bertahan lama karena adanya polisi yang melakukan program pembersihan sampah sosial masyarakat. Beberapa kota pun pernah dihampiri Anggertias untuk mengadu nasib.

“Waktu itu apapun saya lakukan untuk mendapatkan pelanggan. Mau pria atau perempuan, apapun saya lakukan untuk mencari makan,” ujar Anggertias.

Tetapi kemanapun ia berada, masalah selalu menghimpit hidupnya. Hingga pernah ia tidak memiliki sepeser uang pun.

“Pada waktu saya tidak memiliki apapun, memang karena kehidupan malam selalu mendera saya. Pada waktu itu saya bisa dibilang memiliki masalah dengan siapa saja. Tidak hanya urusan uang, seperti hutang… Tetapi saya memiliki hutang dosa. Saya bisa memfitnah orang lain karena omongan saya,” Anggertias menjelaskan situasinya dahulu.

Anggertias pun kembali ke Jakarta dengan harapan ia bisa kembali ke dalam kejayaan masa lalunya.

“Pada waktu sampai di stasiun kota di Jakarta, saya duduk dan melihat koran bekas. Disitu saya membaca kisah orang-orang yang datang jauh dari Jakarta dan bisa berhasil di Jakarta. Kemudian setelah saya baca-baca, saya merenung – mengapa ya orang yang datang jauh ke Jakarta bisa berhasil di Jakarta?” Anggertias merenung dari apa yang ia baca.

Hingga akhirnya Anggertias berkali-kali membaca koran itu. Karena ia menemukan jawabannya di situ juga, yaitu bahwa orang-orang tersebut hidup di dalam Tuhan. Akhirnya Anggertias pun bertanya, “Tuhan apa yang membuat mereka berhasil? Padahal mereka juga bukan orang berpendidikan. Semuanya diceritakan di koran itu. Mengapa mereka bisa menjadi pengusaha berhasil?”

Anggertias mulai membandingkan dirinya dengan kisah orang-orang yang ia baca di koran tersebut. Ia merasa dirinya tetap begitu-begitu saja, bahkan dikejar-kejar banyak orang. Sampai ia merasa pasrah dan mau mati saja. Ingin bunuh diri.

“Saya ke stasiun Gambir, saya mau menjatuhkan diri ke atas rel kereta api. Tapi dalam hati dan pikiran saya seolah-olah ada yang bilang – Jangan, kamu masih ada harapan, kamu bisa melakukan sesuatu,” kisah Anggertias.

Akhirnya Anggertias membatalkan niat bunuh dirinya.

Bertahun-tahun Anggertias mencoba peruntungannya di Jakarta sebagai gelandangan. Akhirnya Anggertias putus asa dan kembali ke kampungnya.

Ketika pulang tiba di kampung, justru Anggertias tidak diterima dan disalahkan. Keluarganya mengusir dirinya karena dahulu Anggertias pernah merugikan keuangan keluarganya.

Akhirnya Anggertias pun kembali ke Jakarta kembali. Ia merasa ditolak oleh keluarganya akibat perbuatan-perbuatannya. Dosa telah membuat hidupnya sangat menderita, bahkan tidak ada seorang pun yang telah berpihak kepadanya. Dalam keputus-asaannya Anggertias berpikir, “Adakah secercah harapan untuk kehidupannya?”

“Saya tidur di pinggir kali, tiba-tiba ada orang yang membangunkan saya dan bertanya kenapa saya disitu. Pada saat itu saya tidak suka diganggu karena permasalahan berat saya, saya justru mengusir om itu. Tetapi om itu kayaknya memperhatikan saya terus. Kemudian om itu mendatangi saya lagi. Dia bilang,”Nak, ayo pulang.” Anehnya, waktu itu saya mau. Di rumahnya, saya didoain, saya diajar Firman Tuhan,” kisah Anggertias.

Di rumah itu Anggertias melihat kesaksian orang-orang yang seperti dirinya, lalu mengalami perubahan hidup dan bisa memiliki hidup sukses di Jakarta dan diberkati. Anggertias berpikir, “Masak sih saya tidak bisa seperti itu?”

Di rumah tersebut Anggertias mendengar suatu ayat yang sangat mengena dengan dirinya. “Meskipun ayahku dan ibuku meninggalkanku, namun Tuhan menyambut aku.”

Anggertias mulai berpikir apakah benar Tuhan mau menyambut dirinya yang memiliki keadaan sudah hancur dan banyak masalah. Dan anehnya, ayat itu terus-menerus ada di telinga Anggertias, ada di pikiran Anggertias.

Anggertias pun mencoba membuktikannya. Anggertias kembali ke rumah orang-tuanya dan berjanji untuk membuktikan dirinya sudah berubah dan bertobat. Tetapi tak perlu alasan apapun, orang-tua Anggertias memang sudah tidak mau menerima dirinya lagi. Mereka tetap mengusir Anggertias.

Dalam keputus-asaanya ia kembali mencoba untuk mengakhiri hidupnya, namun ia gagal. Selama dalam keputus-asaannya, lagi-lagi ayat itu menghibur dirinya. “Tuhan menyambut engkau.”

“Kemudian Anggertias kembali berpikir, “Benar tidak ya… Tuhannya orang Kristen itu mau menyambut saya?”

Dalam pikirannya apakah benar Tuhan masih mau menyambut dirinya, dalam sebuah ibadah Anggertias mendapatkan jawaban atas semua keraguannya. “Tiba-tiba hamba Tuhan itu bilang, bahwa keselamatan itu hanya ada di dalam Tuhan Yesus. Bahkan orang-tua, saudara-saudara kita tidak bisa menyelamatkan. Hanya masing-masing pribadi jika mengakui Tuhan, maka akan diselamatkan.”

Kemudian Anggertias berpikir, “Kok saya tidak pernah menerima Yesus secara pribadi.? Maka saya meminta ampun kepada Tuhan, saya ceritakan semua permasalahan saya kepada Tuhan. Saya berlutut, saya berdoa, saya ceritakan dosa-dosa saya, semua masalah saya. Waktu saya mengingat semua perbuatan saya dahulu, saya merasakan saya ini gak ada harganya. Jorok dan berdosa sama sekali. Saya ceritakan semua pada Tuhan, saya merasakan jamahan Tuhan. Saya mendapatkan kekuatan dan penghiburan yang luar biasa dari Tuhan. Saya merasakan bahwa saya itu berharga di mata Tuhan”

Benar-benar Tuhan itu memberikan jawaban kepadanya. “Kamu itu Aku sambut bagai anak-Ku.”

Sejak saat itu, Anggertias benar-benar memberikan hidupnya kepada Tuhan.

“Mungkin orang tua saya pada saat ini melihat saya, juga orang-orang yang pernah saya sakiti, saya kecewakan melihat saya… Saat ini saya benar-benar minta ampun. Sekarang saya sudah kenal Tuhan. Dan saya juga sudah meninggalkan perbuatan lama saya,” pesan Anggertias.

Ia merasa bahwa Tuhan itu benar-benar mengampuni dirinya. “Jadi memang Yesus adalah segala-galanya dalam kehidupan saya!” (Kisah ini ditayangkan 9 Agustus 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Anggertias Naftali

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s