LINGKARAN SETAN

Pernah dengar tentang istilah ‘lingkaran setan’, ‘Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga’, atau ‘kutuk turunan’?

Ada orang yang sangat membenci ayahnya atau ibunya, dia bersumpah untuk tidak jadi seperti mereka. Tapi beberapa tahun kemudian sifatnya sama persis kayak mereka!  Gubraakkk…

Kali ini GFresh! mau coba sharing bagaimana semua itu bisa terjadi, dan apa jalan keluarnya.

Kita semua tumbuh dewasa sambil meng-copy hal-hal yang banyak terjadi di sekitar kita. Semua itu dimulai dari sejak kecil. Waktu kecil kita coba memakai baju ayah atau ibu kita yang kebesaran. Tetapi yang sering tidak disadari adalah kita bukan hanya meng-copy penampilan tapi juga kebiasaan, cara hidup, perilaku dan prinsip-prinsip kehidupan dari orangtua kita.

Kalau orangtua kita sering bicara kotor, suka merokok, suka memukul, kemungkinan begitulah juga yang akan terjadi dengan diri kita. Proses meng-copy ini terjadi tanpa disadari, bahkan sekalipun waktu kita sebagai sang anak nggak menginginkannya.

Kita tidak dilahirkan dengan 1 manual set tentang bagaimana caranya menghadapi kehidupan. Kita belajar dan meniru bagaimana cara orangtua kita berinteraksi dengan kehidupan. Bagaimana cara orangtua menyatakan kasihnya pada keluarga, bagaimana orangtua menyalurkan kemarahan, bagaimana orangtua menghadapi konflik. Dan seperti shaddow, suka tidak suka, kita bergerak mengikuti gerakan orangtua kita.

Menurut Dr. Maurice Wagner, seorang proffesional counsellor, ada 3 komponen penting untuk membentuk citra diri yang sehat. Rasa dimiliki dan dikasihi, rasa berharga, dan rasa mampu. Ketika salah satu atau semua dari ke tiga komponen ini tidak terpenuhi di masa kecil, efeknya bisa berkembang terus bahkan sesudah kita dewasa dan menikah. Karena tanpa disadari, kita akan terus berusaha mencari dan memenuhi ketiga komponen yang hilang itu, apapun harga yang harus dibayar.

Kita berusaha dengan cara apapun supaya bisa diterima dan menjadi bagian dari 1 kelompok tertentu.

Kita bersedia melakukan apapun supaya kita dikasihi, apapun!

Ketika kita mulai pacaran, kita akan pacaran dengan harapan supaya kebutuhanku dipenuhi. Padahal pacaran adalah kesempatan buat kita saling mengisi, bukan menuntut.

Sebenarnya keinginan untuk dimiliki dan dikasihi adalah hal yang wajar, masalahnya bagi kita-kita yang terluka, hal itu menjadi semacam hutang yang harus dibayar oleh pasangan kita.  Kita akan bertumbuh sebagai orang yang sangat menuntut dan mudah kecewa. Bayangin kalau ternyata pasangan  kita juga punya problem yang sama, akhirnya kita bukan saling mengasihi tapi saling menuntut.

Cuapeede…(bayangin kalo trus masuk pernikahan dengan kondisi seperti itu, apa gak jadi seperti neraka tuh?)

Thats why.. kalau anak dari keluarga bercerai cenderung bercerai juga. Perceraian itu seperti mengatakan kepada anak-anak, “Nak, tidak apa bercerai kalau tidak ada jalan lain”. Dan tentu saja anak-anak dari keluarga cerai akan kekurangan kasih sayang keluarga yang akan membuat mereka menuntut hutang kasih di masa dewasa mereka. Dan ketika hutang ini tidak terbayar? “Tidak ada jalan lain…perceraian satu-satunya jalan”

See.. itu baru 1 problem, masih banyak bentuk problem lain yang bisa terjadi. Begitulah apa yang disebut sebagai Lingkaran setan, Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, Kutuk turunan, terulang kembali. Untuk jalan keluarnya? Baca deh di halaman … atau kunjungi terus http://www.gfreshmagazine.com

See you,

SUmber : Andy Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s