Cara Mengatasi Perselisihan Secara Alkitabiah

Salah satu pergumulan yang sering dihadapi adalah perselisihan.

Eph. 4:1-3 (NLT) “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”

Damai  = Lawan dari pertengkaran/perselisihan.

Konflik bisa saja terjadi, apakah itu mengenai masalah theologia,hal-hal praktis, masalah politik, masalah kebudayaan, atau selera pribadi.

Waktu konflik terjadi dalam kehidupan Saudara, apa yang akan Saudara lakukan? Karena bagaimana cara kita dalam menangani konflik yang menentukan level kedewasaan rohani kita.

Kita perlu belajar berjalan dalam kasih waktu kita menangani konflik. Kasih artinya:

1. Kita harus punya sikap yang benar.

Artinya : kita harus merendahkan diri kita seperti seorang anak kecil.

2. Kita harus melakukan pendekatan terhadap konflik dengan rendah hati.

Rendah hati  artinya  menurunkan. Dan itu adalah lawan dari apa yang daging kita inginkan waktu kita menghadapi konflik.

3. Kita harus melakukan pendekatan yang tepat.

Yesus memberikan empat langkah sederhana untuk mengatasi konflik.

Kadang kita membuatnya menjadi rumit, sementara Yesus sebenarnya mengajarkan sesuatu yang SEDERHANA.

EMPAT LANGKAH MENYELESAIKAN KONFLIK

Langkah #1: Bicara empat mata dengan orang yang terlibat konflik.

E. Stanley Jones mengatakan dalam Reader’s Digest (Dec. 1981): Seekor ular rattlesnake kalau disudutkan kadang jadi begitu marah sehingga dia akan menggigit dirinya sendiri. Kalau kita memendam kebencian dan kemarahan pada orang lain, sebenarnya kita melakukan hal yang sama – kita menggigit diri kita sendiri.

Beberapa arahan untuk pembicaraan secara pribadi:

Segera lakukan. Jangan tunda penyelesaian konflik.

Berhadapan muka. Yesus berkata, “tegorlah dia di bawah empat mata.” Jangan menulis email, jangan cuman pakai telepon, jangan pakai surat atau catatan, dan yang paling penting jangan menulis di “blog” tanpa

Perkuat hubungan. Biarlah orang tsb tahu bahwa yang Saudara inginkan adalah menyelesaikan konflik, bukan mencari kesalahan.

Lakukan penelitian, bukan tuduhan. Artinya menangani hal yang telah terjadi, bukan tunjuk jari menyerang karakter mereka.Pakai pernyataan menggunakan kata “Saya” dari pada “kamu.”

Dapatkan faktanya. Setelah Saudara melakukan penelitian, ijinkan orang tsb memberikan respon.

Miliki suatu pemikiran. Point-nya adalah memulihkan kepercayaan dan keharmonisan.

Langkah #2: Bawa Saksi bersama Saudara.

Motif saksi ini tujuannya sama : supaya ada rekonsiliasi.

Langkah #3: Bawa Masalahnya kepada kepemimpinan di gereja.(1 Kor. 6:1-8)

Langkah #4: Kalau semua langkah di atas gagal, putuskan hubungan. (Roma 12:17-20)

Ada kisah tentang Leonardo da Vinci, waktu dia sementara melukis Last Supper, dia melukis Yudas dengan wajah orang yang sementara marahan dengan dia. Tetapi dia tidak bisa menggambar muka Yesus sampai dia akhirnya dia mengganti lukisan wajah Yudas.

Ingat doa Bapa Kami : “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Konflik pasti terjadi, bahkan di gereja sekalipun. Tetapi yang terpenting adalah apa yang akan kita lakukan pada waktu hal itu terjadi? Kita harus awali dengan berjalan dalam kerendahan hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s