Menjaga Kekudusan

Awalnya hubungan Simon dan Lisa seperti laiknya pasangan muda biasa. Mereka bertemu di gereja, seiring waktu dan sama-sama aktif sebagai penggiat gereja, intensitas pertemuan mereka pun semakin meningkat. Lambat laun keduanya semakin dekat dan menyatakan diri sebagai pasangan.

Pertemuan yang tadinya hanya sebatas di lingkungan gereja kini kian eksklusif. Simon mulai rajin menyambangi kediaman Lisa. Frekuensi kunjungan yang semula hanya seminggu sekali, lama-lama menjadi meningkat, hingga akhirnya tiada hari tanpa kedatangan Simon ke rumah Lisa. Sampai suatu ketika, malapetaka itu pun terjadi, Lisa dinyatakan positif hamil.

Siapa pun terhenyak saat mendengar berita itu. Maklum, selama ini Simon dan Lisa dikenal sebagai anak Tuhan yang benar-benar menerapkan prinsip alkitabiah di dalam kehidupan mereka.

Guys, siapa pun kita, tidak akan terlepas dari pencobaan selama masih tinggal di dunia. Sebetulnya, jika Simon dan Lisa sejak awal mewaspadai perangkap-perangkap iblis, tentunya mereka bisa tetap menjaga kekudusan selama berpacaran.

Apa saja perangkap-perangkap iblis yang dimaksud? Salah satunya adalah intensitas pertemuan, yang sangat mempengaruhi kedekatan baik secara fisik maupun secara psikologis. Apalagi kalau pertemuan tersebut kerap diadakan di tempat-tempat yang tidak mendapat pengawasan orang lain. Umumnya, sepasang kasih yang sedang termehek-mehek, ingin menyatakan perasaannya tidak hanya melalui ungkapan verbal, tetapi juga non verbal seeprti sentuhan fisik.

Sah-sah saja jika ungkapan kasih sayang dinyatakan melalui sentuhan fisik, asal jangan sampai membangkitkan birahi. Sebab kalau ya, maka itu berarti sudah keluar dari area kekudusan. Jadi, bagaimana  caranya menyatakan rasa sayang dalam koridor yang sewajarnya? Salah satunya adalah berpegangan tangan, tapi kalau tidak hati-hati, ini pun juga bisa menjadi perangkap iblis.

Sebetulnya, berpegangan tangan untuk menjaga kekasih saat menyeberang jalan misalnya, adalah cara yang sopan untuk mengungkapkan kasih sayang. Tapi jikalau berpegangan tangan itu dilakukan nyaris tiap kali bertemu, maka bisa jadi ini akan memicu keinginan untuk “memegang” yang lainnya, bahaya kan?

Pernah dengar istilah ciuman kudus? Istilah ini merujuk pada perilaku ciuman yang dilakukan sepasang kekasih, tapi tanpa ada unsur birahi di dalamnya. Bisa jadi kalau ciuman itu hanya dilakukan di wilayah ubun-ubun dah dahi, karena di kedua daerah itu memang tidak terdapat area sensitif yang dapat membangkitkan gairah seksual. Lain cerita kalau ciuman itu dilakukan di area berbahaya seperti bibir, ini tentunya bisa memicu manuver selanjutnya yang mengarah pada hubungan seksual.

Jadi, bagaimana cara menjaga kekudusan dalam berpacaran? Pastikan menetapkan batas antara kamu dan pasangan, yakni sejauh mana kalian bisa saling bersentuhan fisik. Kalau kalian merasa berpegangan tangan sah-sah saja walaupun saat sedang tidak menyeberang jalan, silakam saja. Asal jangan sampai dari berpegangan tangan kalian ingin melakukan hal-hal yang lain ya!

Juga dengan ciuman. Lebih baik sih untuk yang satu ini memang ditunda hingga hari H-nya tiba. Kalau pun terpaksa dilakukan lebih baik dilakukan di hari yang spesial, misal ulang tahun si dia, dan di daerah tertentu pula ya! Usahakan mengadakan pertemuan di mana ada orang lain di sekitar. Jadi, jangan coba-coba bertandang kalau di rumah si dia nggak ada siapa-siapa, ok?

sumber :GLM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s