Bergaul Dengan Kleptomania

Sekolah tempat Deasy menimba ilmu mendadak heboh. Penyebabnya, seorang murid tertangkap basah mencuri dompet teman sekelasnya. Dan, berdasar kabar yang beredar, murid itu tidak sekadar mencuri, tetapi dinyatakan mengidap kleptomania.

Seorang dikatakan menderita kleptomania, kalau ia terdorong berulang-ulang untuk mencuri sesuatu, entah berupa uang, barang atau benda lainnya. Beda dengan seseorang yang mencuri karena profesi, atau kebutuhan, pengidap kleptomania tidak akan menggunakan barang curiannya untuk kepentingan pribadi. Umumnya, usai mencuri, barang tersebut akan ia berikan kepada orang lain atau ia buang.

Pengidap kleptomania, sebelum melakukan aksinya, akan mengalami peningkatan ketegangan dan merasa puas saat berhasil melakukan aksinya. Ini berarti, kleptomania adalah gangguan kejiwaan yang ditandai dengan aksi berulang yang tidak saja bisa dikendalikan, tetapi juga tidak dilandasi dengan motivasi dan yang tidak rasional. Seseorang yang normal kondisi kejiwaannya, tentu mampu membendung keinginan yang dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Ada pula gangguan kejiwaan yang gejalanya mirip dengan kleptomania, tetapi tidak dalam faktor pemicu. Gejala yang mirip, kedua pengidap gangguan kejiwaan semacam ini—saat beraksi—merasa kepuasaan tersendiri. Bedanya, jika seorang kleptomania puas dengan ketegangan timbul saat ia beraksi, maka pelaku yang satu lagi merasa “bahagia” karena bisa membahagiakan orang lain dengan kepuasaannya.

Pelaku semacam ini disebut menderita gangguan jiwa obsesif kompulsif, di mana ia mencuri dan kemudian memberikan barang curiannya kepada orang lain. Ia merasa bahagia bisa menyenangkan dan menolong orang lain (melalui hasil curiannya), dan kepuasaan diperoleh dari rasa syukur orang-orang yang memperoleh bantuannya tersebut.  Kalau dipikir, mirip dengan kisah Robin Hood dari Inggris ya?

Guys, tidak bisa dipungkiri, di sekitar kita terdapat orang-orang yang mengidap kleptomania atau gangguan obsesif kompulsif. Dan, bagaimana kalau ternyata salah satu teman kita adalah pengidap kleptomania, atau pengidap obsesif kompulsif? Perlu diketahui, bahwa kedua penyakit jiwa ini—seperti gangguan lainnya—bisa disembuhkan. Untuk proses penyembuhan, maka dibutuhkan bantuan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Deasy, yang berkawan akrab dengan murid yang ditenggarai mengidap kleptomania itu, sadar bahwa upaya mengucilkan atau mengasingkan tidak akan membantu proses kesembuhan temannya itu. Ia, bersama teman-teman lainnya, sepakat untuk memberi ekstra pengawasan kepada temannya yang sedang menderita itu. Ini untuk meredam keinginan sang teman untuk mengambil barang yang bukan miliknya.

Sedangkan untuk pengidap obsesif kompulsif, maka tindakan yang perlu diambil adalah memperbaiki trauma masa lalu penderita. Mengapa? Biasanya pengidap gangguan ini, merasa bahwa jika ia diterima lingkungan sekitar karena ia memiliki banyak barang atau uang. Seperti Ryan, waktu kecil ia merasa tidak memiliki teman, karena tidak memiliki cukup uang untuk membelikan mereka pelbagai makanan dan mainan. Akan tetapi, saat ia memiliki banyak uang, maka ia dikelilingi oleh teman-temannya. Inilah yang membuat Ryan menjadi pelaku pencurian karena gangguan obsesif kompulsif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s